Selasa, 25 Mei 2010

Hanya karena Allah kita Berikhlas

Dunia adalah ujian bagi seluruh penghuninya, terutama manusia yang memang telah diciptakan dengan nafsu, akal, dan hati. Manusia yang memang telah ditakdirkan oleh Allah swt untuk menjadi khalifah di muka bumi, tentu tidak akan ada yang dapat terlewat dari jerat ujian dan cobaan hidup yang diberikan oleh Allah swt.

Ikhlas, adalah sebuah kata sederhana yang hanya tersusun dari lima huruf saja. Ikhlas, merupakan sebuah kata yang mengandung makna yang sangat indah. Kata ini sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk direalisasikan.

Dalam ajaran agama Islam, kata ikhlas ini senantiasa dikaitkan dengan ridho Allah swt. Artinya, sebuah perbuatan baru dikatakan sebagai perbuatan yang ikhlas manakala tidak mengharapkan imbalan sekecil apapun, kecuali hanya mengharapkan balasan dan ridho Allah swt. Hal ini telah disampaikan oleh Allah swt di dalam Al Quran yang artinya:

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At Taubah : 59)

Ikhlas, yaitu bersih dari segala bentuk pamrih dan harapan kepada selain Allah swt, sebesar apapun pamrih dan harapan tersebut. Satu-satunya harapan yang boleh dan wajib ada di dalam sebuah keikhlasan hanyalah keridhoan Allah swt semata. Berikut kami sajikan sekelumit kisah yang menggambarkan betapa pentingnya sifat ikhlas bagi manusia.

Abdullah bin ‘Umar ra berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Terjadi pada masa dahulu sebelum kamu, tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam dalam sebuah gua. Ketika mereka telah berada di dalam gua itu, tiba-tiba jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka: “Sungguh, tiada suatu apapun yang dapat menyelamatkan kami dari bahaya ini, kecuali jika tawassul kepada Allah swt dengan amal-amal shalih yang pernah kami lakukan dahulu kala”. Maka berkatalah salah seorang dari mereka: “Ya Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi minuman susu kepada seorangpun sebelum keduanya (ayah-ibu), baik pada keluarga atau hamba sahaya, maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku menggembala ternak, hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan sayapun tidak akan memberikan itu kepada siapapun sebelum ayah bunda itu. Maka saya tunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum dari susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu juga anak-anakku sedang menangis meminta susu itu, di dekat kakiku. Ya Allah, jika apa yang saya perbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka lapangkanlah keaaan kami ini”. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya saja mereka belum dapat keluar daripadanya.

Kemudian, berdoalah yang kedua dari mereka: “Ya Allah, dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, maka karena rasa cinta kasihku itu, saya selalu merayu dan ingin berzina dengannya, tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang meminta bantuan kepadaku, maka saya berikan kepadanya uang seratus dua puluh dinar, tetapi dengan janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada di antara kedua kakinya, tiba-tiba ia berkata: ‘Takutlah kepada Allah swt dan janganlah kau pecahkan tutup kecuali dengan cara yang halal’. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya, dan saya tinggalkna dinar mas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah, jika saya berbuat itu semata-semata hanya karena mengharap ridho-Mu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini”. Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka masih belum dapat keluar dari gua tersebut.

Maka berdoalah orang ketiga dari mereka: “Ya Allah, saya dahulu sebagai majikan, mempunyai banyak buruh pegawai, dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu, tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segera ia pergi meninggalkan upah dan terus pulang ke rumahnya tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu hingga bertambah dan berbuah hingga merupakan kekayaan. Kemudian setelah lama, datanglah buruh itu dan berkata: ‘Hai Abdullah, berikanlah kepadaku upahku yang dahulu itu!’ Jawabku: ‘Semua kekayaan yang di depanmu itu daripada upahmu yang berupa unta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu’. Berkata orang itu: ‘Hai Abdullah, kamu jangan mengejek kepadaku’. Jawabku: ‘Aku tidak mengejek kepadamu. Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tidak meninggalka satupun daripadanya’. Ya Allah, jika saya berbuat itu hanya karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini”. Tiba-tiba menyisihlah batu itu hingga keluarlah mereka dengan selamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber: Kitab Riyadhus Shalihin I

Dari sekelumit kisah di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa sifat ikhlas yang hanya mengharapkan ridho Allah swt akan senantiasa mendapatkan balasan dari Allah swt. Dengan keikhlasan yang tertanam di dalam jiwa seorang muslim, niscaya Allah swt akan senantiasa memberikan kemudahan atau jalan keluar bagi setiap kesulitan dan berb

Niat Yang Ikhlas

Tak cukup hanya dengan memahami makna kata ikhlas. Mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan demi mendapatkannya tentu sangat diperlukan.

Ada beberapa cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas.

1.Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal.
Menambah pengetahuan tentang Allah SWT dan hari kiamat.
Dengan mengetahui ilmu tentangNya,maka seseorang yang mengenal Allah dengan sebenar2nya tentulah ia tidak akan berani menyekutukan Allah dengan selainNya didalam niatnya. Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti diakhirat.

2.Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan Al Qur’an,karena Al Qur’an adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (Q.S. Yunus;57) termasuk penyakit riya’,ujub dan sum’ah.

3.Memperbanyak amal-amal rahasia,sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain.

4.Menghindari/mengurangi saling memuji,karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong.

5.Berdo’a,dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik

Menguji Keikhlasan Niat

Ikhlas, melakukan segala sesuatu dengan niat hanya untuk Allah. Tentu hal ini sulit bagi sebagian kita. Selalu saja ada godaan melakukan sesuatu karena pamrih dengan yang lain. Mempelajari tentang makna kata ikhlas menjadi awal pemahaman yang semoga dapat membantu kita bisa mengamalkannya.

Secara bahasa,ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti bersih/murni. Sedangkan niat berarti al qashdu,artinya maksud atau tujuan. Ikhlassunniyah berarti membersihkan maksud dan motivasi kepada Allah dari maksud dan niat lain. Hanya mengkhususkan Allah azza wa jalla sebagai tujuan dalam berbuat.Allah telah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam beramal dan beribadah kepadaNya seperti yang tercantum dalam Q.S. Al Bayyinah;5 dan Q.S. Al A’raaf;110

Pentingnya Ikhlas
-Merupakan ruhnya amal,karena seperti badan yang tidak ada ruhnya,maka tanpa ikhlas amal,sebagus apapun tidak ada artinya.
-Salah satu syarat diterimanya amal
“Allah azza wa jalla tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas dalam mencari keridhaanNya semata” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)
-Ikhlas dalam berniat haruslah sesuai dengan syariat Islam (Al Quran dan Sunnah)
-Penentu nilai/kualitas suatu amal (Q.S.An NIsaa;125)
-Mendatangkan berkah dan pahala dari Allah (Q.S.Al Baqarah;262 dan Q.S.An Nisaa;145-146)

Beberapa unsur dalam membentuk ikhlas:
1.Orang yang mukhlis harus memperhatikan pandangan khaliq,bukan pandangan makhluk.Sebab sedikitpun mereka tidak ada artinya bagi Allah.

2.Apa yang lahir pada diri orang yang mukhlis harus sinkron dengan batinnya,yang tampak dengan yang tersembunyi. Sary as Saqthy berkata,”Barangsiapa berhias dimata manusia dengan sesuatu yang tidak selayaknya,maka dia menjadi hina dimata Allah”

3.Menganggap sama antara pujian dan celaan manusia. Engkau tidak lepas dari celaan manusia walaupun engkau terpuji disisi Allah.Begitu pula sebaliknya.

4.Tidak boleh memandang ikhlasnya,sehingga ia takjub kepada diri sendiri,sehingga ketakjubannya itu justru merusak dirinya. Maka dari itu,orang-orang arif menegaskan untuk tidak melihat amal diri sendiri. Sehingga Abu Ayyub As Susy berkata “Selagi mereka melihat ikhlasnya sudah cukup,berarti ikhlas mereka itu masih membutuhkan ikhlas lagi”

5.Melupakan tuntutan pahala amal di akhirat.
Sebab orang yang mukhlis tidak merasa aman terhadap amalnya,yang bisa saja dicampuri bagian untuk dirinya.Menurut pandangan orang mukhlis,amal yang dikerjakannya itu tidak layak dimintai suatu balasan dan ia melihat pahala sebagai suatu kebaikan Allah SWT terhadap dirinya. Nabi SAW bersabda,”Sekali kali amal seorang diantara kalian tidak akan mampu memasukkannya kedalam surga.” Mereka bertanya “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “TIdak pula aku,kecuali Allah melimpahkan rahmatNya kepadaku” (HR. Muttafaqun ‘alaih.)

6.Takut penyusupan riya dan hawa nafsu kedalam jiwa,sementara dia tidak menyadarinya.Sebab syetan itu mempunyai saluran yang terselubung dan ruwet,yang bisa dijadikan jalan untuk menyusup kedalam jiwa.

Menguji Kiekhlasan Niat

Ikhlas, melakukan segala sesuatu dengan niat hanya untuk Allah. Tentu hal ini sulit bagi sebagian kita. Selalu saja ada godaan melakukan sesuatu karena pamrih dengan yang lain. Mempelajari tentang makna kata ikhlas menjadi awal pemahaman yang semoga dapat membantu kita bisa mengamalkannya.

Secara bahasa,ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti bersih/murni. Sedangkan niat berarti al qashdu,artinya maksud atau tujuan. Ikhlassunniyah berarti membersihkan maksud dan motivasi kepada Allah dari maksud dan niat lain. Hanya mengkhususkan Allah azza wa jalla sebagai tujuan dalam berbuat.Allah telah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam beramal dan beribadah kepadaNya seperti yang tercantum dalam Q.S. Al Bayyinah;5 dan Q.S. Al A’raaf;110

Pentingnya Ikhlas
-Merupakan ruhnya amal,karena seperti badan yang tidak ada ruhnya,maka tanpa ikhlas amal,sebagus apapun tidak ada artinya.
-Salah satu syarat diterimanya amal
“Allah azza wa jalla tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas dalam mencari keridhaanNya semata” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)
-Ikhlas dalam berniat haruslah sesuai dengan syariat Islam (Al Quran dan Sunnah)
-Penentu nilai/kualitas suatu amal (Q.S.An NIsaa;125)
-Mendatangkan berkah dan pahala dari Allah (Q.S.Al Baqarah;262 dan Q.S.An Nisaa;145-146)

Beberapa unsur dalam membentuk ikhlas:
1.Orang yang mukhlis harus memperhatikan pandangan khaliq,bukan pandangan makhluk.Sebab sedikitpun mereka tidak ada artinya bagi Allah.

2.Apa yang lahir pada diri orang yang mukhlis harus sinkron dengan batinnya,yang tampak dengan yang tersembunyi. Sary as Saqthy berkata,”Barangsiapa berhias dimata manusia dengan sesuatu yang tidak selayaknya,maka dia menjadi hina dimata Allah”

3.Menganggap sama antara pujian dan celaan manusia. Engkau tidak lepas dari celaan manusia walaupun engkau terpuji disisi Allah.Begitu pula sebaliknya.

4.Tidak boleh memandang ikhlasnya,sehingga ia takjub kepada diri sendiri,sehingga ketakjubannya itu justru merusak dirinya. Maka dari itu,orang-orang arif menegaskan untuk tidak melihat amal diri sendiri. Sehingga Abu Ayyub As Susy berkata “Selagi mereka melihat ikhlasnya sudah cukup,berarti ikhlas mereka itu masih membutuhkan ikhlas lagi”

5.Melupakan tuntutan pahala amal di akhirat.
Sebab orang yang mukhlis tidak merasa aman terhadap amalnya,yang bisa saja dicampuri bagian untuk dirinya.Menurut pandangan orang mukhlis,amal yang dikerjakannya itu tidak layak dimintai suatu balasan dan ia melihat pahala sebagai suatu kebaikan Allah SWT terhadap dirinya. Nabi SAW bersabda,”Sekali kali amal seorang diantara kalian tidak akan mampu memasukkannya kedalam surga.” Mereka bertanya “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “TIdak pula aku,kecuali Allah melimpahkan rahmatNya kepadaku” (HR. Muttafaqun ‘alaih.)

6.Takut penyusupan riya dan hawa nafsu kedalam jiwa,sementara dia tidak menyadarinya.Sebab syetan itu mempunyai saluran yang terselubung dan ruwet,yang bisa dijadikan jalan untuk menyusup kedalam jiwa.

Sebuah Cerminan Kisah Tentang Ikhlas

Sore hari udara segar berhembus, seorang pemuda telah menunaikan sholat Ashar di masjid Al-Hikmah. Pandangannya menyapu jalanan. Tidak banyak orang berlalu lalang di jalan. Terlihat kakek sedang beristirahat keletihan. Sepeda dengan sekarung besar rumput tergeletak disebelahnya. Wajahnya terlihat hitam terbakar oleh matahari. Seharian kakek mencari rumput untuk makan kambingnya. Beberapa kali kakek itu mendirikan sepeda tuanya tetapi terjatuh. Tak kuasa tubuhnya rapuh menahan beban berat. Wajah kakek meringis menahan kesakitan, mengiba seperti hendak minta pertolongan.

Melihat pemandangan seperti itu, pemuda yang dari tadi memperhatikan merasa terpanggil. Segera berlari menolong sang kakek, dengan sekuat tenaga dia mendirikan sepeda tuanya. Sekarung rumput diikatkan dibelakangnya. Setelah sepeda berdiri pemuda itu menuntunnya. Bercucuran keringat dipelipisnya. Tergopoh-gopoh pemuda membantu kakek menaiki sepedanya. Semangatnya berbuat baik telah mengalahkan semua keletihan yang dirasakan. Awalnya dia mengira akan melihat kakek tua itu tersenyum dan mengucapkan 'terima kasih ya nak..' Ternyata setengah merebut sepeda, kakek itu mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar telinga. Wajahnya bermuka masam tak sedap untuk dipandang.

Pemuda itu terperanjat melihat sikap sang kakek, berkali-kali dirinya beristighfar. Wajahnya terlihat memerah, berdiri mematung. Sikap kakek yang kasar telah membuatnya syok, kaget dan terkejut. 'Apakah ada yang salah dari perbuatan saya?' tanya pemuda itu dalam hati. pemuda itu membisu dan bersedih menyaksikan kakek yang pergi meninggalkan dirinnya dengan berlalu begitu saja. Pemuda itu mencari makna. 'barangkali inilah makna ikhlas,' ucapnya lirih.

Dengan langkah gontai menuju Rumah Amalia. Sesampainya di Rumah Amalia, pemuda itu bercerita pada saya, apa saja yang telah dialaminya. Saya katakan padanya, Dalam Surat At-Thuur ayat 21, Alloh SWT berfirman, '..dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.'

'Jadi jangan pernah berharap apapun atau balasan dari perbuatan baik yang telah kita lakukan. Walaupun sekedar ucapan terima kasih maupun senyuman dari orang yang telah kita tolong. Lakukanlah semata-mata karena Alloh SWT itulah makna ikhlas. Tidak perbuatan baik yang sia-sia.' tutur saya padanya.

Malam temaram telah menyelemuti. Hatinya melihat secercah mutiara hikmah yang ditemukan pada hari ini. Wajahnya berhiaskan senyum. 'Subhanallah..'Ucapnya berkali-kali. Mutiara hikmah bukan hanya ditemukan untuk pemuda itu saja namun juga buat saya. Makna ikhlas begitu teramat dalam. Sebuah perbuatan baik yang kita lakukan tidaklah berharap untuk mendapatkan pujian atau balasan dari orang lain sekalipun perbuatan baik itu kita lakukan kepada pasangan hidup kita dan juga anak kita sendiri sekalipun sebab Alloh SWT memuliakan kita dari perbuatan baik yang telah kita lakukan.

--
Dalam Surat At-Thuur ayat 21, Alloh SWT berfirman, '..dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.'

Wassalam,

Makna Ikhlas

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”


Alkisah.. he..he... Hus! serius, maaf sekarang serius nih.

Begini ceritanya ada abang ama adik sang abang bekas seorang preman pokoke gitu deh gak usah didefinisiin seorang preman nah sang adik ini kebalikan dari abangnya pokoe sholeh dah definisiin sendiri dah.. .

selang beberapa tahun sang abang insyaf alias pensiun dari kepremanannya. Mulailah ia berpetualang mencari-cari jati diri keislamamannya,setelah sekian lama tanpa sengaja ia mendengar ceramah Ust.Yusuf Mansur di TV trus dia cari-cari cd ceramah Ust tersebut disebuah mall dan ia mendapatkannya walaupun bajakan ( ga papa kan ust. he..he..) saking inginnya memperdalam ilmu dengan ust. tersebut ia mendaftarkan diri mengikuti kuliah online wisata hati ( promosi nih.. bukan, cuma iklan kok.. sama aja donk he..he..)

Ia pernah membaca buku MENCARI TUHAN YANG HILANG karangan ust tersebut ( promosi lagi nih... au ah gelap) dalam buku tersebut ia terinspirasi tentang ust. memelihara anak yatim yang akhirnya menjadi istri ust. tersebut. nah kebetulan sang adik pengurus salah satu pengurus masjid dan ia membidangi masalah anak2 asuh khususnya anak yatim yang masih bersekolah, kalau ada data anak asuh/yatim yang baru biasanya sang adik maen kerumah sang abang untuk minjem komputer sang abang sekalian di print dan semua data2 anak asuh/yatim tersebut ada dikomputer sang abang, adik bilang bang data saya yang ada dikomputer abang jangan dihapus, abang bilang ok d kk. singkatnya begini tanpa sepengetahuan sang adik sang abang tersebut membuka file data2 anak asuh ia bermaksud ingin menjadi donatur anak2 asuh tersebut setelah sekian lama ia mencari akhirnya ia mendapatkan 2 orang nama, anak tersebut yatim dan masih kecil sekolahnya masih kelas 3 SD. sang abang tersebut berniat kalau minggu depan ia dapat rizki ia mau membagi rizki kepada 2 anak yatim tersebut, ternyata Allah mengabulkan do'a abang tersebut ia dapat proyek disuruh ngerakit komputer dan selanjutnya, dan selanjutnya bla bla.. bla.. ( panjang banget kalo diceritain, pokoe gitu deh bukan KOK GITU SIH he..he.. ), pas malam Jum'at dengan berbekal data alamat anak asuh adiknya berangkat ia dengan menggendong anaknya menuju anak asuh yang pertama " Assalamu'alaikum.. maaf bu apa benar ini rumahnya fulan1 yang menjadi anak asuh Masjid Darussalam, Waa'laikumsalam ya benar, maaf bu ada titipan dari Masjid Darussalam begitu juga dengan anak asuh yang kedua, menurut pandangan orang tuanya oh.. orang suruhan dari Masjid, Padahal itu uang pribadinya.

Meraih Kesempurnaan Ikhlas

“Dan mereka tidak diperintah, kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan di dalam menjalankan ajaran agama”. (al-Bayyinah:5)

Keikhlasan adalah inti dan ruh peribadatan. Ibnu Hazm berkata, niat adalah rahasia peribadatan. Kedudukan niat terhadap amal sama dengan kedudukan ruh terhadap jasad. Mustahil apabila peribadatan itu hanya berupa amalan yang tidak ada ruhnya sama sekali, seperti jasad yang teronggok.

Ikhlas adalah dasar diterima atau ditolaknya suatu amalan, dan juga kunci untuk menuju kemenangan atau kerugian yang abadi, jalan menuju sorga atau neraka. Manakala keikhlasannya itu cacat maka ia akan membawa pelakunya menuju neraka, tetapi manakala keikhlasan bisa terealisasikan maka ia akan membawa pelakunya menuju sorga.

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (al-Kahfi:110)

Makna Ikhlas

Ikhlas berasal dari kata khalasha, maknanya yaitu kejernihan dan hilangnya segala sesuatu yang mengotorinya. Dengan demikian, kata ikhlash menunjukkan kepada sesuatu yang jernih, bersih dan bebas dari campuran dan kotoran. Di antara makna ikhlas menurutb ulama’ adalah “Amal yang dilakukan hanya karena Allah, tidak untuk selain Allah”

Orang yang Ikhlas (mukhlis) adalah orang yang tidak peduli apakah keluar seluruh kemampuannya di hati orang lain karena kebenaran hatinya terhadap Allah, dan dia tidak ingin menampakkan amalnya meskipun hanya sebiji sawi kepada orang lain

Beratnya Meraih Kesempurnaan Ikhlas

Para salaf mengakui, bahwa merealisasikan ikhlas dan memperbaiki niat adalah perkara yang sangat sulit. Ini dikarenakan hati kita memiliki sifat suka berubah dan berbolak-balik, sehingga bisa jadi seseorang pada mulanya berniat ikhlas, namun di tengah jalan niatnya ternodai atau bahkan berubah. Demikian pula sebaliknya ada yang mulanya salah dalam niat, namun akhirnya tahu akan kekeliruannya, lalu memperbaiki niat tersebut.

Maka mengetahui berbagai persoalan yang berkaitan dengan keikhlasan amat perlu bagi kita, sebagai salah satu upaya menjaga hati, agar senantiasa lurus tertuju kepada Allah. Tidak goyah oleh segala gangguan dan godaan, baik was-was syetan maupun segala yang dicenderungi oleh hawa nafsu.

Keikhlasan yang sempurna amat-lah sulit digambarkan, kecuali oleh orang yang telah menyerahkan cinta-nya secara utuh kepada Allah dan mengutamakan akhirat. Apalagi mengingat, bahwa manusia memiliki sifat banyak lupa dan mempunyai kecenderungan yang besar terhadap kehidupan duniawi, bahkan banyak pula yang terpedaya olehnya.

Biasanya keikhlasan akan sulit untuk menembus hati orang yang telah terpesona dan tergantung dengan kehidupan dunia, kecuali atas taufik dari Allah. Jangan jauh-jauh, kita tengok dalam hati kita masing-masing dalam hal yang ringan saja, seperti makan atau tidur misalnya, kita melakukan itu biasanya karena memang kita menginginkannya. Jarang terbetik di dalam pikiran kita ketika melakukan itu adalah agar badan kita kuat dan sehat, sehingga dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan baik. Demikian pula dalam melakukan berbagai amal yang lain, kita sering merasakan adanya berbagai bisikan dan gangguan yang menggerogoti kemurnian niat ikhlas kita kepada Allah.

Maka selayaknya masing-masing kita bersikap waspada, membentengi diri, memusatkan niat dan tujuan pada keikhlasan yang sempurna, jangan hiraukan was-was syetan, sebab was-was dan bisikan syetan akan menghancurkan dan melemahkan kita. Dan ketika amal-amal shaleh yang kita kerjakan terkena polusi, maka janganlah merasa lemah, sebab kotoran-kotoran tersebut dapat dihilangakan, sehingga amal tersebut menjadi benar-benar jernih dan tidak hilang pahalanya.

Bila Keikhlasan Ternodai

Bagaimana seseorang bersikap, apabila keikhlasan suatu amal yang dia kerjakan ternodai? Sebab tak jarang orang yang menghadapi masalah ini lantas surut dari berbuat kebaikan, khawatir terkena riya’.

Abu Thalib al-Makki berkata, “Seseorang tidak boleh meninggalkan amal shalih karena takut terkena penyakit pada amal, karena memang itulah yang dikehendakai oleh musuhnya (syetan). Tetapi dia harus kembali kepada niatnya semula, niat yang benar. Jika amal tersebut tersusupi oleh penyakit, maka hendaknya ia segera mencari obatnya, berusaha menghilangkannya dan tetap pada niat yang benar dan tujuan yang baik. Tidak boleh meninggalkan suatu amalan karena manusia, atau karena malu terhadap mereka. Sebab beramal karena manusia adalah syirik, dan meninggalkannya karena mereka adalah riya’. Meninggalkan amal karena khawatir akan masuknya penyakit (riya’) di dalam hati adalah kebodohan, dan meninggalkannya ketika amal tersebut sedang dilakukan (karena keikhlasannya terganggu) adalah suatu kelemahan. Siapa saja yang beramal karena Allah dan meninggalkannya juga karena Allah, maka tidak ada masalah baginya selagi masih berada dalam koridor ini, tentunya setelah ia dapat mebuang jauh jauh segala niat buruk. ”

Dapatkah Niat yang Rusak Diperbaiki?

Sebagian orang ada yang menyangka, bahwa apabila amal kebaikan dimulai dengan niat yang salah, maka amal tersebut harus ditinggalkan. Ini adalah anggapan yang salah. Niat itu dapat diperbaiki dan dibangun di atas amal perbuatan tersebut, tanpa harus meninggalkannya. Sebagian salaf ada yang pernah mencari ilmu tanpa niat yang sempurna dan benar, kemudian mereka menyadari dan akhirnya kembali kepada Allah serta memperbaiki niat mereka, memulai niat menuntut ilmu dengan niat yang benar.

Imam adz-Dzahabi mengatakan, “Para salaf mencari ilmu karena Allah, sehingga mereka menjadi mulia dan menjadi imam yang diteladani.” Ada juga di antara mereka yang mulanya mencari ilmu bukan karena Allah, setelah mereka mendapatkan ilmu mereka introspeksi diri, maka ilmu mereka telah mengantarkan mereka kepada keikhlasan di tengah jalan. Mujahid berkata, “Kami mencari ilmu, dan pada mulanya kami tidak memiliki niat yang benar, kemudian Allah mengaruniakan niat kepada kami.”

Keikhlasan Yang Ternodai

Seseorang yang telah berusaha beramal dengan ikhlas, namun ternyata masih ada noda yang mengotorinya, seperti kealpaan atau syahwat, maka pahala amalnya tidak hilang secara keseluruhan. Ini merupakan keutamaan dari Allah untuk hamba-hamba Nya, sehingga kaum muslimin tidak terjatuh ke dalam keputusasaan dan kesempitan hidup. Kotoran-kotoran yang semacam ini sangat sulit dihilangkan, kecuali sebagian kecil saja. Namun demikian bukan berarti, bahwa noda tersebut tidak berpengaruh terhadap amal, ia tetap membuat pahala suatu amal menjadi berkurang kesempurnaannya, namun tidak sampai kepada tingkat menghapuskannya sama sekali.

Oleh karena itu seorang hamba setelah berusaha semaksimal mungkin, hendaknya senantiasa khawatir antara ditolak dan diterima amal perbuatannya, takut kalau amal ibadahnya terdapat penyakit yang bahayanya lebih besar daripada pahalanya. Karena itu jangan sampai ada ujub dan bangga dengan amalnya, dan bahkan terus meningkatkan kualitasnya.

Memperlihatkan Amal Kebaikan

Memang, pada dasarnya amal kabaikan haruslah disembunyikan dan tidak perlu di tampakkan kepada orang lain, kecuali yang memang harus ditampakkan seperti shalat berjama’ah dan haji. Namun dalam keadaan tertentu memperlihatkan amal shalih dapat dibenarkan asalkan memenuhi syarat, yaitu:

Pertama, bebas dari riya’ (bukan untuk pamer)

Kedua, terdapat faedah diniyah dari menampakkannya.

Misalnya untuk memberikan contoh kebaikan, menguatkan orang yang lemah, atau untuk menenangkan dan memberikan kabar gembira. Seperti yang pernah dikatakan Abu Sufyan bin Harits, salah seorang paman Nabi menjelang wafatnya, “Janganlah kalian menangisi aku, karena sejak masuk Islam aku tidak pernah melakukan dosa.”